Sunday, July 8, 2012

Imunisasi DPT

BAB I
PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang
Kata imun berasal dari bahasa Latin ‘immunitas’ yang berarti pembebasan (kekebalan).  Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular.
Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh. Kuman disebut antigen. Pada saat pertama kali antigen masuk ke dalam tubuh, maka sebagai reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi.
Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.

1.2  Tujuan
-     Agar para pembaca mengerti tentang imunisasi DPT
-     Agar mahasiswa mampu memberikan asuhan imunisasi DPT



BAB II
TINJAUAN TEORI



2.1  Pengertian imunisasi DPT
Imunisasi adalah tindakan untuk memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit atas tubuh manusia (Kamisa, 1998 : 241). Imunisasi DPT suatu kombinasi vaksin penangkal difteri, pertusis, dan tetanus.
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus.  Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha.
Imunisasi DPT yaitu imunisasi / vaksin kombinasi yang terdiri dari bakteri pertusis yang telah dimatikan, toksoid (zat yang menyerupai racun) dari difteri dan juga tetanus. Vaksin DPT ini diberikan untuk mencegah penyakit difteri yang bisa mematikan, penyakit pertusis yang sering disebut batuk 100 hari dan penyakit tetanus.
o      Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan
        komplikasi yang serius atau fatal
o     Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak.
o     Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang.

Imunisasi DPT merupakan imunisasi dengan memberikan vaksin yang mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat racunnya akan masih dapat merangsang pembentukan zat anti bodi ( toksoid ).

2.2    Definisi Difteri, Tetanus, dan Pertusis

A. Difteri
          Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas (gangguan saluran pernafasan) dengan gejala demam tinggi, pembengkakan pada amandel ( tonsil ) dan terlihat selaput putih kotor yang meliputi tenggorokan dan kerongkongan yang makin lama makin membesar dan dapat menutup jalan napas serta kelemahan otot. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung dan kematian. Serta bisa menyebabkan infeksi paru-paru dan kerusakan otak . Penularan umumnya melalui udara (batuk / bersin ) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontamiasi.
Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan. Efek samping yang mungkin akan timbul adalah demam, nyeri dan bengkak pada permukaan kulit, cara mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas.

B. Pertusis
Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan “Batuk Seratus Hari“ Penyakit batuk biasanya banyak terjadi pada anak balita. Penyebab penyakit ini adalah kuman Bordetella pertusis dan dapat disebabkan oleh Haemophylus pertusis. Kuman ini biasanya berada di saluran pernafasan. Bila anak-anak dalam keadaan daya tahan tubuhnya melemah, maka kuman tersebut mudah sekali menyerang dan menimbulkan penyakit.
Penularannya melalui cairan yang keluar dari hidung yang tersembur keluar waktu batuk atau bersin (udara). Tanpa perawatan, penderita pertusis dapat menularkannya kepada orang lain sampai tiga minggu setelah batuk mulai terjadi. Waktu antara eksposur dan jatuh sakit biasanya tujuh sampai sepuluh hari, tetapi mungkin sampai tiga minggu. Perawatan dan pencegahan penyakit ini tidak terlalu sulit. Bila anak tidak begitu menderita dan cuaca cukup baik, boleh ia dibawa keluar agar dapat menghirup udara segar dan bersih. Makanan  sebaiknya diberikan yang ringan-ringan dan cukup bergizi.
Pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi bersamaan dengan Tetanus dan Difteri sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang penyuntikan.

Gejala-gejala Pertusis :
-         Pertusis biasanya mulai seperti pilek saja, dengan hidung beringus, rasa lelah dan
          adakalanya demam parah.
-         Kemudian batuk terjadi, biasanya sebagai serangan batuk terus menerus yang sukar
          berhenti, menyebabkan sulitnya makan, minum dan bernafas, diikuti dengan
   tarikan  napas besar (atau “whoop”). Adakalanya penderita muntah setelah batuk.
-         Muka menjadi merah mungkin menjadi kebiruan dan muntah kadang-kadang
     bercampur darah atau berhenti bernafas
-         Anak yang lebih besar dan orang dewasa mungkin menderita penyakit yang kurang
          serius, dengan serangan batuk yang berlanjut selama berminggu-minggu tanpa
          memperhatikan perawatan.
-         Dapat menimbulkan komplikasi seperti pnemonia, kejang, kerusakan otak bahkan
          kematian

C. Tetanus
Tetanus adalah manifestasi sistemik tetanus disebabkan oleh absorbsi eksotoksin sangat kuat yang dilepaskan oleh Clostridium tetani pada masa pertumbuhan aktif dalam tubuh manusia. Penyebab penyakit ini adalah Clostridium tetani yang hidup anaerob, berbentuk spora selama di luar tubuh manusia, tersebar luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi baik. Toksin ini dapat menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit dan merupakan tetanosporasmin yaitu toksin yang neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot.
Ditandai dengan kekejangan otot di seluruh tubuh, dapat berupa kekakuan otot mulut sehingga tidak dapat membuka mulut ataupun menelan, 2 dari 10 penderita tetanus meninggal dunia.
Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot. Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.
Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir. Neonatal tetanus menyerang bayi yang baru lahir karena dilahirkan di tempat yang tidak bersih dan steril, terutama jika tali pusat terinfeksi. Neonatal tetanus dapat menyebabkan kematian pada bayi dan banyak terjadi di negara berkembang.
Sedangkan di negara-negara maju, dimana kebersihan dan teknik melahirkan yang sudah maju tingkat kematian akibat infeksi tetanus dapat ditekan. Selain itu antibodi dari ibu kepada jabang bayinya yang berada di dalam kandungan juga dapat mencegah infeksi tersebut.
Toxin yang dikeluarkan oleh Clostridium tetani adalah Tetanospasmin menempel pada urat syaraf di sekitar area luka dan dibawa ke sistem syaraf otak serta saraf tulang belakang, sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat syaraf. Terutama pada syaraf yang mengirim pesan ke otot. Infeksi tetanus terjadi karena luka. Entah karena terpotong, terbakar, aborsi , narkoba (misalnya memakai silet untuk memasukkan obat ke dalam kulit) maupun frosbite. Walaupun luka kecil bukan berarti bakteri tetanus tidak dapat hidup di sana. Sering kali orang lalai, padahal luka sekecil apapun dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteria tetanus.
Periode inkubasi tetanus terjadi dalam waktu 3-14 hari dengan gejala yang mulai timbul di hari ketujuh. Dalam neonatal tetanus gejala mulai pada dua minggu pertama kehidupan seorang bayi. Walaupun tetanus merupakan penyakit berbahaya, jika cepat didiagnosa dan mendapat perawatan yang benar maka penderita dapat disembuhkan. Penyembuhan umumnya terjadi selama 4-6 minggu. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sebagai bagian dari imunisasi DPT. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewasa. Dianjurkan setiap interval 5 tahun : 25, 30, 35 dst. Untuk wanita hamil sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.

2.3    CARA PEMBERIAN IMUNISASI DPT
Imunisasi DPT diberikan dengan cara injeksi intra muskuler (IM) pada paha (m. vastus lateralis) dan pada lengan (m. deltoid) sebanyak 0,5 ml.

2.4    WAKTU PEMBERIAN DAN KEKEBALAN
Imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak anak berumur 2 bulan dengan interval 4-6 minggu. DPT1 deberikan umur 2-4 bulan, DPT2 umur 3-5 bulan, dan DPT3 umur 4-6 bulan. Imunisasi DPT pada bayi 3 kali (3 dosis) akan memberikan imunitas satu sampai 3 tahun.
Imunisasi ulang yang diberikan selanjutnya yaitu : DPT4 diberikan 1 tahun setelah DPT3 pada usia 18-24 bulan, dan DPT5 pada usia 5-7 tahun. Sejak tahun 1998, DPT5 dapat diberikan pada kegiatan imunisasi di sekolah dasar. Pada usia 12 tahun diberikan DPT6 mengingat masih dijumpai kasus difteri pada umur lebih dari 10 tahun. Ulangan DPT umur 18-24 bulan (DPT4) akan memperpanjang imunitas 5 tahun sampai umur 6-7 tahun. Dosis toksoid tetanus ke 5 (DPT/DT5) bila diberikan pada usia masuk sekolah akan memperpanjang imunitas 10 tahun lagi, yaitu sampai umur 17-18 tahun. Petunjuk pemberian vaksinasi DPT pada anak kelas 1 SD adalah:
a.     Anak yang pernah mendapat vaksinasi DPT sewaktu bayi, diberi DT 1 kali suntikan
       dengan dosis 0.5 cc IM/SC dalam;
b.    Anak yang belum pernah mendapat vaksinasi DPT sewaktu bayi, diberikan vaksinasi DT
       sebanyak 2 kali suntikan dosis 0.5 cc dengan interval minimal 4 minggu;
c.   Apabila meragukan apakah waktu bayi mendapat DPT atau tidak maka diberi 2 kali
      suntikan seperti pada butir b.
Bila ternyata usia bayi sudah melewati 2 bulan dan belum mendapatkan imunisasi DPT tak perlu panik. Lakukan saja imunisasi DPT segera dengan mengikuti jadwal usianya. Misalnya usia bayi 5 bulan, tidak perlu menambahkan imunisasi DPT untuk usia 2 bulan sebelumnya. Namun, memang akan lebih baik bila anak diimunisasi sesuai jadwalnya.
Setelah diimunisasi, seringkali anak menjadi demam (suhu tubuh di atas 37,5 Ada yang bilang bila anak tidak demam artinya vaksin tidak bekerja dengan baik. Banyak kabar beredar kini telah tersedia Imunisasi DPT Panas & Dingin. Ada dua bentuk imunisasi DPT, yakni bentuk DPwT (whole cell pertusis atau mengandung komponen protein pertusis lengkap) dan bentuk DPaT (acelullar atau hanya mengandung sebagian protein pertusis). Pada DPaT di mana protein pertusis telah dikurangi, otomatis kemungkinan timbul efek sampingnya juga berkurang. Namun, bukan berarti DPaT bebas demam. Hanya saja bila timbul demam tidak setinggi DPwT.
Jadi, pernyataan bila tidak ada efek demam vaksin tidak bekerja adalah tidak benar. Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin DPT pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster).
Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi DPT bisa ditunda sampai anak sehat. Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan.

2.5 KONTRA INDIKASI IMUNISASI DPT
-   Anak-anak dengan reaksi alergi berat setelah penyuntikan DPT sebelumnya.
-   Anak yang menderita kelainan saraf sekitar 7 hari setelah penyuntikan DPT sebelumnya,
atau yang bersifat keturunan seperti epilepsi
-    Anak dengan KIPI berat setelah DPT sebelumnya seperti : kejang, menangis lebih
     dari 3 jam, demam diatas 40.5’ C
Untuk dosis selanjutnya anak-anak tersebut dianjurkan untuk diberikan imunisasi DT saja.

Vaksin ini tidak dianjurkan pada usia 7 tahun ke atas, berikut adalah jenis vaksin untuk dewasa:
-     Tdap : dengan dosis dipteri dan pertusis yang lebih kecil atau
-     Td : tidak untuk pertusis.

2.6    EFEK SAMPING PEMBERIAN DPT
1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan. Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen). Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan.

Tips :
-       Berikan obat pereda demam 2-3 hari sebelum imunisasi dilakukan.
-       Bila ia demam boleh memberikan obat pereda.
-       Sebaiknya imunisasi dilakukan saat tubuhnya dalam kondisi sehat.

2.7    KIPI  (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)
Reaksi setelah penyuntikan DPT bervariasi dari ringan sampai berat namun tidak seberat jika menderita penyakit tersebut.
KIPI ringan (sering)
-      Demam (1 dari 4 anak)
-      Merah dan bengkak di tempat suntikan (1 dari 4 anak)
-      Nyeri dan perih di tempat suntikan (1 dari 4 anak)
-      Rewel 1-2 hari(1 dari 3 anak)
-      Tidak nafsu makan (1 dari 10 anak)
-      Muntah (1 dari 50 anak)
Gejala dapat menghilang 1-7 hari.

KIPI sedang (jarang)
-      Kejang  (1 dari 14.000 anak)
-      Menangis lebih dari 3 jam (1 dari 1000 anak)
-      Demam >40.5’C (1 dari 16.000 anak)

KIPI berat (sangat jarang)
-      Reaksi alergi berat
-      Kerusakan otak yang permanen (1 dari sekian juta anak, sulit untuk dipertimbangkan
 sebagai efek samping dari vaksin karena kejadiannya yang sangat jarang).

Hubungi dokter anda jika terjadi KIPI sedang – berat.

Secara umum
  • Reaksi kemerahan, bengkak, dan nyeri pada lokasi injeksi
  • Demam ringan dengan reaksi lokal sama diantaranya ada yang mengalami hyperpireksia
  • Anak gelisah dan menangis terus-menerus selama beberapa jam pasca suntikan
  • Ada kejang demam yang diakibatkan demam tinggi
  • KIPI yang cukup serius adalah terjadinya ensefalopati akut atau reaksi anafilaksis dan terbukti disebabkan oleh adanya unsur vaksin pertusis


BAB III
PENUTUP



3.1 Kesimpulan
Imunisasi DPT suatu kombinasi vaksin penangkal difteri, pertusis, dan tetanus. Bayi berumur 2 bulan mendapat imunisasi DPT1 pada usia 2-4 bulan, dan akan mendapatkan DPT2 dan DPT3 masing-masing selang 4-6 minggu kemudian.  Setiap pemberian memiliki dosis 0,5 cc yang diberikan secara IM pada lengan dan paha. Anak akan diberikan imunisasi ulang yaitu DPT4 1 tahun setelah DPT3 pada usia 18-24 bulan, dan DPT5 pada usia 5-7 tahun dan DPT6 pada usia 12 tahun.
Tidak jarang anak yang mendapatkan imunisasi DPT sering mengalami demam, namun masih bisa diatasi.  Anak yang tidak mendapatkan imunisasi DPT di usia 2 bulan, bukan berarti tidak bahaya, dapat diberikan dibulan berikutnya (maksimal usia 4 bulan).



DAFTAR PUSTAKA


  
Rukiyah, Ai Yeyeh dan Lia Yulianti. 2010. Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita. Jakarta : TIM.

Maryunani, Anik. 2010.  Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta : TIM



www.cdc.gov/dpt(diphteria,pertusis,tetanus).